Someday it will be spring summer
What you see is overly drama
Unhappy people
Unhappy life
Shitty, so miserable
People will get what they deserve
People will attract something of what their real self are
People will be something they choose to be
We are nothing, but a hope.
That hope we don’t even know
where it is in our self
that will get us there
to spring summer
in our heart.
Saturday, February 04, 2012
Thursday, January 19, 2012
Kata Pak BJ Habibie
"Dik, saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi wakil dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya." — B.J. Habibie
Translation:
"Kids, I was starting everything from rock bottom until I was appointed a vice president of a leading company in Germany, and eventually became President of Republic Indonesia, this is not the event of a sudden. During these 48 years I have never been separated by Ainun my wife and mother of my children. She followed me to anywhere I go with full dedication and patience to me. You may be probably familiar living apart with your wives, but not with me. "- B.J. Habibie
It is a story of BJ Habibie, ex President of Republic Indonesia, who just lost his dearest wife in Mei 2012. He was greatly grieved about it. Indonesian's love story.
"Kids, I was starting everything from rock bottom until I was appointed a vice president of a leading company in Germany, and eventually became President of Republic Indonesia, this is not the event of a sudden. During these 48 years I have never been separated by Ainun my wife and mother of my children. She followed me to anywhere I go with full dedication and patience to me. You may be probably familiar living apart with your wives, but not with me. "- B.J. Habibie
It is a story of BJ Habibie, ex President of Republic Indonesia, who just lost his dearest wife in Mei 2012. He was greatly grieved about it. Indonesian's love story.
Sunday, December 11, 2011
"It Will Be Allright, For I Am With You.."
Read: Haggai 2:1-9
The people of Israel had returned from exile just a few years before. They came back to a place that was home and yet not home. They had to live alongside with the unfamiliar ‘remnant’ in the land. They had to rebuild homes and businesses. They suffered through drought. Most of all, they had to rebuild the Temple and reconcile the faith they kept in exile with the faith they now needed to sustain them in the future. Their lives were unsettled and uncertain, full of unease and anxiety.
In the midst of their struggle, the Lord encourages the people to be strong, to be courageous, to keep on, to move forward, to not let the past become the definition of the future. “It will be alright,” says the Lord, “for I am with you.”
Today, we, too, live in uncertainty and unease. Some of us wonder whether we can make it through tough economic times, or whether we will have a job tomorrow or next year. We fear the terrorist from another shore and the thief down the street. Even our familiar ways of faith are unsettled. Yet in this season, God reminds us in a most amazing way, with the birth of a child, that God is still with us and will bring us Shalom, wholeness, peace, and rest.
- IES Church Devotional Digest, 10-Dec-2011
The people of Israel had returned from exile just a few years before. They came back to a place that was home and yet not home. They had to live alongside with the unfamiliar ‘remnant’ in the land. They had to rebuild homes and businesses. They suffered through drought. Most of all, they had to rebuild the Temple and reconcile the faith they kept in exile with the faith they now needed to sustain them in the future. Their lives were unsettled and uncertain, full of unease and anxiety.
In the midst of their struggle, the Lord encourages the people to be strong, to be courageous, to keep on, to move forward, to not let the past become the definition of the future. “It will be alright,” says the Lord, “for I am with you.”
Today, we, too, live in uncertainty and unease. Some of us wonder whether we can make it through tough economic times, or whether we will have a job tomorrow or next year. We fear the terrorist from another shore and the thief down the street. Even our familiar ways of faith are unsettled. Yet in this season, God reminds us in a most amazing way, with the birth of a child, that God is still with us and will bring us Shalom, wholeness, peace, and rest.
- IES Church Devotional Digest, 10-Dec-2011
Thursday, November 03, 2011
The Art of Losing Something
Hmmm ga tahu kenapa tiba-tiba ingin menulis seni dari kehilangan sesuatu.
Tiba2 ingin saja, mungkin saja.
Saya pernah merasakan kehilangan. Bukan kehilangan sesuatu yang saya perlukan atau tidak melalukan sesuatu yang bisa ‘membunuh’ saya, tapi bener-bener kehilangan sesuatu yang saya sayangi.
Percayalah, salah satu pelajaran yang paling SANGAT menempah saya hingga menjadi sekarang ini adalah losing something, not all things I have last forever.
Salah satu yang paling saya takutkan adalah kehilangan anggota keluarga saya. Terakhir, saya kehilangan nenek saya. Saya teringat bahwa bulan ini sudah bulan November, sudah mau akhir tahun, sudah mau Natal dan kumpul keluarga besar.
Saya menyadari bahwa saya tidak akan pernah ketemu lagi dengan nenek saya. Untuk sekarang, saya belum bisa membayangkan bagaimana rasanya ibadah tutup tahun tanpa nenek saya biasanya memberikan petuah. Saya sudah terlampau biasa dengan itu. Saya sudah terlampau sayang dengan nenek saya.
Hhh, I miss your voice so much, Grandma. T_T
Apalagi katamu terakhir kita bertemu, aku harus benar-benar serius belajar, menyelesaikan sekolahku yang kali ini, agar nenek bisa datang ke Jakarta dan melihat aku wisuda. Kamu juga bilang, akan mengusahakan kesehatan juga agar bisa melihat wisuda itu hingga waktunya. Tapi tidak, nenek ga bisa menepati janji kepadaku. Tuhan sudah duluan mengambil janji nenek. Namanya janji adalah janji, bisa tertepati, bisa tidak kan?
Tapi,
Apapun hal saya kehilangan itu,
Saya pernah kehilangan anggota keluarga saya
Saya pernah kehilangan cinta saya yang pertama
Saya pernah kehilangan kesempatan
Membuat saya jadi berpikir ..
Hidup pada waktunya ada akhirnya. Ada awal, ada ujung.
Rasa kehilangan akan berakhir.
Rasa kehilangan akan terlupakan ketika saya meninggal.
Rasa kehilangan akan terlupakan ketika saya meninggal.
Di alam lain sana, saya tidak akan mengingat apa2 lagi yang saya punya di dunia, orang-orang yg sudah saya kenal dan sesuatu yg sudah saya jalani di dunia.
Aku tidak akan mengingat lagi nenek, orangtua saya, sahabat2 saya, orang2 yg pernah menyakiti saya, dan kamu yang membaca ini.
Aku tidak akan mengingat lagi nenek, orangtua saya, sahabat2 saya, orang2 yg pernah menyakiti saya, dan kamu yang membaca ini.
Saya selalu mengingat fakta itu setiap melihat segala sesuatu di dunia.
Bahwa hidup saya hanya persinggahan. Hanya sebentar mengenal seseorang, kemudian saya/dia pergi.
Hanya mencengkram persepsi sesuatu itu di pikiran sebentar, kemudian saya tidak akan mengingatnya lagi.
Bahwa inti hidup adalah justru kehilangan.
Mati.
Tetapi nya,
Sesuatu harus mati, agar tunas baru bisa tumbuh
Seseorang harus kehilangan sesuatu, supaya orang itu bisa “hidup”.
Seseorang harus kehilangan sesuatu , supaya paham menghargai sesuatu itu dari awal sebelum kehilangan.
Saya tahu, saya akan kehilangan segala sesuatu suatu hari nanti & tidak bisa menemukannya lagi.
Karena itu, saya harus bnr2 memperlakukan sesuatu dengan baik, dari awal.
Saya tahu, suatu hari nanti saya tidak akan merasakan lagi rasanya kehilangan.
Karena itu, saya tidak akan berhenti cuma karena kehilangan.
Saya tetap akan meneruskan kuliah, walaupun nenek saya tidak bisa melihat saya wisuda lagi.
The art of losing something.
Sunday, October 23, 2011
Friday, October 21, 2011
Science is FUN! :D
It is called Poggendorf Illusion.
For other illusions, you can learn by yourself here :D :
http://www.michaelbach.de/ot/ang_poggendorff/index.html
Sunday, August 28, 2011
Monday, August 22, 2011
Rememberance Effect
"Everything lives as long as we remember it.
But once we forget it, it will rest in peace."
- Linda, August 22th 2011-
But once we forget it, it will rest in peace."
- Linda, August 22th 2011-
Friday, August 05, 2011
Memang Kuk-Nya Ringan
Dua ayat ini terus ada di benak saya beberapa hari ini.
Ulangan 30:11-14
"Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Tetapi Firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan!"
Bandingkan dgn nubuat Yeremia kepada bangsa Israel di ayat Yeremia 31:33-34 :
"Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman Tuhan: Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umatKu. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikian firman Tuhan, sebab Aku akan mengampuni kesalahan merekea dan tidak lagi mengingat dosa mereka"
Saya sering mempertanyakan selama ini, apakah kuk yg diberikan Tuhan memang benar ringan & dapat dilaksanakan manusia ?
Saya berusaha mencari kuk yang dimaksudkan Tuhan itu seperti apa.
Dan di zaman PB ini, kuk Tuhan hanya ada dua, mengasihi Dia dengan sesama.
Setelah aku coba renungkan, kegiatan mengasihi itu sebenarnya tidak susah kan ya?
Perkara yg sangat mudah untuk terjadi, ketika kita tiba2 mengasihi / mencintai seseorang. Perkara yg sangat mudah ketika berhubungan dengan orang yg kita kasihi terasa ringan dihadapi, karena kita sudah mencintai / mengasihi org tersebut.
Menurut saya, yang sebenarnya membuat kuk "kelihatannya" susah adalah dari diri sendiri. Menahan ego.
Ego menolak untuk mengasihi org lain.
Ego saat keinginan pribadi selalu ingin ditempatkan di atas kepentingan org yg dikasihi.
Kembali lagi, kuk mencintai sendiri tidak susah.
Seperti saat jatuh cinta, permasalahan lain2 seperti tidak terasa :)
-----------------------------------------
Dalam kedua ayat di atas, ada kekonsistenan bahwa baik Musa dan Yeremia menegaskan Firman Tuhan tidak susah utk dilakukan jika Firman itu dekat di dalam mulut dan benar2 dituliskan di dalam loh hati.
Ulangan 30:11-14
"Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Tetapi Firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan!"
Bandingkan dgn nubuat Yeremia kepada bangsa Israel di ayat Yeremia 31:33-34 :
"Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman Tuhan: Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umatKu. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikian firman Tuhan, sebab Aku akan mengampuni kesalahan merekea dan tidak lagi mengingat dosa mereka"
Saya sering mempertanyakan selama ini, apakah kuk yg diberikan Tuhan memang benar ringan & dapat dilaksanakan manusia ?
Saya berusaha mencari kuk yang dimaksudkan Tuhan itu seperti apa.
Dan di zaman PB ini, kuk Tuhan hanya ada dua, mengasihi Dia dengan sesama.
Setelah aku coba renungkan, kegiatan mengasihi itu sebenarnya tidak susah kan ya?
Perkara yg sangat mudah untuk terjadi, ketika kita tiba2 mengasihi / mencintai seseorang. Perkara yg sangat mudah ketika berhubungan dengan orang yg kita kasihi terasa ringan dihadapi, karena kita sudah mencintai / mengasihi org tersebut.
Menurut saya, yang sebenarnya membuat kuk "kelihatannya" susah adalah dari diri sendiri. Menahan ego.
Ego menolak untuk mengasihi org lain.
Ego saat keinginan pribadi selalu ingin ditempatkan di atas kepentingan org yg dikasihi.
Kembali lagi, kuk mencintai sendiri tidak susah.
Seperti saat jatuh cinta, permasalahan lain2 seperti tidak terasa :)
-----------------------------------------
Dalam kedua ayat di atas, ada kekonsistenan bahwa baik Musa dan Yeremia menegaskan Firman Tuhan tidak susah utk dilakukan jika Firman itu dekat di dalam mulut dan benar2 dituliskan di dalam loh hati.
Thursday, July 28, 2011
Bukankah begitu, Cinta?
Cinta — kata itu terlalu sering dirapalkan, teramat acap dihapalkan.
Seindah lembayung senja, seteduh berkah rembulan.
Namun ketika teresap terbilangkan, aku pikir kesucian dan maknanya bisa memudar,
——— secepat embun pagi yang menguap di bawah terik hitam matahari.
Ada kah yang merasa begitu?
Ketika cinta terkatakan, hilang kemurniannya?
Seindah lembayung senja, seteduh berkah rembulan.
Namun ketika teresap terbilangkan, aku pikir kesucian dan maknanya bisa memudar,
——— secepat embun pagi yang menguap di bawah terik hitam matahari.
Ada kah yang merasa begitu?
Ketika cinta terkatakan, hilang kemurniannya?
Search
About Me
Labels
- Devotional Digest (1)
- Humour (1)
- Interesting (4)
- Love Will Find Her Way (9)
- Personal (42)
- Quotes (9)
- Song of The Day (1)
- Thoughts (24)
Blog Archive
Copyright© 2011 by Love Will Find Her Way.
